Langsung ke konten utama

Review : Hello, Cello.

Hello, Cello adalah sebuah novel adaptasi dari alternative universe atau sering di singkat au di Twitter dengan judul yang sama. Awal baca aunya yaa karena visual yang dipake Jeno WKWKWK, eh tapi nggak juga sih, aku udah baca karya Nadia Ristivani yang lainnya, Hilmy Milan sama The Camarro, jadi waktu tau dia bakalan nerbitin au Cello ini, aku jelas excited banget, apalagi waktu dia kasih prompt yang beneran karakter Cello ini adalah karakter yang selalu bikin aku jatuh cinta sejak aku masuk ke dalam dunia pernovelan WKWKWKWK. Aku beneran selalu seneng baca cerita yang cowoknya sekelas alligator terus tetiba kepentok cinta yang berakhir bikin dia bucin dan setia banget ke ceweknya.

Bukunya udah dateng dari hari Senin kemarin, tapi aku beneran bacanya pelan-pelan banget karena pengen ngeliat sebeda apa antara au dan novelnya. Dan hasilnya, nggak mengecewakan sama sekali. Aku udah pernah baca adaptasi au ke novel dan penulisannya masih agak kasar gitu, tapi Nadia ini beneran bikin aku betah banget bacanya karena menurutku udah mendekati penulisan para penulis novel senior lainnya. Dan karena hal itu, aku berani kasih nilai 8.5/10. Sebenernya beneran bisa banget aku kasih nilai 9, tapi ada di bagian waktu penjelasan epilog dari narasi film yang bagusnya lebih diberi beda antara narasi film dan paragraf novelnya, jujur waktu awal aku sempet bingung sih waktu baca narasi film tetiba langsung ke POV si pemeran utama wanita. Mungkin bisa diberi tanda petik, atau tulisan miring sebagai pembeda. But overall, semuanya nggak ada masalah, typo di beberapa kalimat nggak sampe bikin ganggu.

Mau ceritain dikit boleh kali yaaa. Jadi, Hello, Cello ini pemeran utama prianya bernama Marcello Este yang biasa dipanggil Cello dan pemeran utama wanitanya bernama Serafina Helga Pramidita yang biasa dipanggil Helga. Sebenernya, tema yang diambil dari cerita ini bukan cerita yang baru, tapi beneran masih sangat bisa dinikmati karena tentunya masih ada perbedaan dengan cerita yang lain. Cello adalah seorang alligator dengan jam terbang yang tinggi. Sedangkan di sisi lain, Helga sendiri adalah seorang gadis ceria yang sudah terlampau sering memiliki hubungan tidak mengenakkan dengan para lelaki.

Dua manusia bertolak belakang yang dipertemukan dengan cerita yang menurutku unik. Dalam novel ini beneran ceritanya diperdetail lagi dibandingkan di au, diberi penjelasan dari awal cerita sampai akhir. Kalau di au, adegan waktu Helga cerita ke temen-temennya kalau Cello pertama kali chat itu melalui grup chat sedangkan di novelnya adegannya adalah mereka ngobrol secara langsung. Ada banyak adegan tambahan dimana di au nggak sebanyak itu, yang jelas adegan-adegan tambahan ini sukses banget bikin aku salting tingkat tinggi. Kek aku pas baca tuh beneran berasa akunya jadi Helga sangking ngenanya cara Cello memperlakukan Helga.

Kalau pas aku baca aunya, aku rasa fokusku lebih ke Cello, entah karena aku udah bucin Cello atau emang penulisnya lebih fokusin ke Cello yaaa, tapi kalau di novel ini fokusku ke Helga. Kek beneran setelah baca novelnya aku jadi tau dan bisa lebih memahami karakter si Helga. Aku juga ngerasa kalau 90% karakter Helga itu aku banget. Aku banyak ngerasa relate sama beberapa keadaan Helga yang ada di novel. Kek sering bet pas baca dan ngerasa ada yang cocok auto ngomong sendiri "Ih, ini kok aku banget yaa" terus pas ada yang cocok lagi "Ih, asli beneran ini aku banget!!!" dan berakhir dengan "Ih ini aku sama kek Helga apa mungkin jodohku nantin modelan Cello?" WKWKWKWK, gapapa kan yaaa halu, mumpung halu masih gratis. Haluin aja dulu siapa tau jadi kenyataan, yakan?

Salah satu uniknya novel ini tuh biasanya konflik ditaruh di tengah cerita, dan menuju ending semua sudah baik-baik saja. Sedangkan novel ini, konflik diletakkan di akhir cerita, sangat mepet dengan akhir dari ceritanya. Tenang, cerita ini berakhir bahagia kok. Bahagia yang beneran bahagia kok, bahagianya sampe bikin aku ikutan ngerasa bahagia dan sukses bikin aku senyum-senyum nggak jelas kek orang jatuh cinta. Oh iya, konflik yang ada di dalam novel ini juga bukan konflik yang berat banget, beneran cocok banget dibaca waktu pikiran lagi suntuk-suntuknya. 

Banyak pesan tersirat yang ingin disampaikan penulis. Salah satu yang beneran ngena di aku adalah bahwa kita perlu mencintai diri kita sendiri sebelum kita mencintai orang lain. Kita perlu mencintai diri kita sendiri untuk akhirnya kita bisa berdiri dengan kaki kita sendiri tanpa perlu validasi atau labelling dari orang lain. Kita perlu untuk mencintai diri kita sendiri untuk kita bisa berjalan dengan kepala tegak tanpa perlu merasa kecil berhadapan dengan siapapun. Dan kita perlu mencintai diri kita sendiri untuk bisa mencintai siapapun pasangan kita nanti dengan porsi yang pas dan tanpa ada rasa merasa rendah dengan siapapun masa lalu pasangan kita nantinya.

Ada banyak adegan yang berkesan di aku. Pertama, adegan waktu Cello modus minta ditemenin ke supermarket, nggak tau kenapa menurutku itu manis banget. Kedua, waktu Cello beneran ngabulin satu per satu permintaan Helga. Ketiga, waktu Cello langsung nyusulin Helga disaat Cello tau kalo Helga sedang nggak baik-baik aja. Dan yang terakhir, adegan Cello dan Helga melakukan photobooth WKWKWK, karena itu beneran hal yang pengen aku lakuin kalau nanti udah punya pasangan. Untuk lebih jelasnya, silahkan baca sendiri yaaa!

Sekian review singkat dan abal-abal dari aku. Pokoknya aku beneran rekomendasiin kalian banget buat baca novel keren ini. Beli yang asli tapi yaaa gengs, jangan yang bacakan! Ntar diomelin sama Cello kalian kalau beli yang bacakan. Terakhir, ijinin aku teriak yaaa :

MARCELLO ESTE BISA NGGAK KAMU KELUAR DARI NOVEL TERUS JADI PACAR AKU???

Dah, beneran selesai, sekian dan Terima Cello!

See you!

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tentang Aku dan Kamu

Teruntuk sang kekasih, Kamu mungkin nanti tak akan melihatku bingung memilih satu baju dengan baju lainnya, atau satu tas dengan tas lainnya. Tapi, kamu akan menemukanku bingung antara satu judul buku dengan judul lainnya. Memilih buku dari penulis favoritku atau buku dengan sinopsis yang menarik hatiku. Kamu mungkin tak akan melihatku bersemangat mendatangi konser salah satu grup idolaku, karena kamu dan aku sama-sama tahu bahwa orang tuaku tak akan merestui. Tapi, kamu akan melihatku bersemangat dengan talkshow dari salah satu penulis favoritku, penulis-penulis hebat yang melahirkan banyak karakter yang membuatku mencinta. Kamu mungkin tak akan melihatku bersemangat memasuki pusat perbelanjaan. Karena tempat itu selalu sukses membuatku lelah terlebih dahulu. Tapi, kamu mungkin akan melihatku tak pernah lelah untuk berjalan sepanjang jalan malioboro, menikmati perjalanan jauh untuk mencapai pantai yang tenang, atau bahkan mengelilingi kota Jogja. Kamu mungkin akan menemu...

The Way I Love You

Semua yang berkaitan dengannya nyatanya tak pernah berakhir baik-baik saja. Lagu yang sering dia putar, makanan yang selalu dia pesan, bahkan setiap tempat yang selalu dia dan aku datangi. Semua tak pernah menjadi hal yang berakhir baik jika aku bertemu dengannya. Semua hal itu akan selalu mendatangkan jutaan kenangan yang lama telah aku coba untuk lupakan. Termasuk jalanan yang saat ini sedang aku pandangi. Sebuah jalan bernama Malioboro yang dulunya menjadi tempat nomor satu bagiku. Lalu lalang manusia tidak membuat otakku berhenti bekerja dalam menghentikan semua kenangan yang mendadak datang bagaikan sebuah film yang aku tonton di tv usang. Samar namun menguat di saat bersama. Memburam tapi tercetak kuat di saat bersamaan. Membuatku menggila. Membuatku sesak akan dorongan rindu yang tidak boleh aku rasakan kembali. He is sensible and so incredible Mencoba menghapus bayangannya dengan memikirkan seseorang yang beberapa bulan ini selalu menemaniku. Mencoba untuk meyakinkan hati...

Aku Masih Menulis...

Aku masih menulis, Menulis tentang masa-masa yang telah aku tinggal jauh di belakang, Masih berangan tentang mawar yang aku usahakan untukmu, Masih berangan tentang binar matamu yang aku pikir hanya untukku kala itu, Masih berangan tentang bercerita di depan api unggun yang kamu nyalakan musim dingin itu. Aku masih menulis, Menulis tentang sinar pancaran matamu saat kamu bercerita, Menulis tentang indah garis lengkung bibirmu saat kamu tersenyum, Menulis tentang merdu suara tawamu saat kamu tertawa. Aku masih menulis, Menulis tentang kemungkinan-kemungkinan dunia paralel yang kamu ceritakan itu benar adanya, Menulis tentang kemungkinan di dunia paralel itu kita sedang mewujudkan impian-impian kita, Menulis tentang kemungkinan di dunia paralel itu kita saling bergerak tanpa ada rasa takut. Aku masih menulis, Menguatkan ingatanku yang mulai memburam tentang apa-apa tentangmu, Menguatkan bayangmu yang perlahan mulai menghilang, Menguatkan kisah-kisah yang kita pernah bakar h...