Meninggalkanmu adalah sebuah kutukan
Berjalan di jalan yang berbeda denganmu adalah penderitaan
Dan kata brengsek telah menyelinap dalam namaku
Tersesat
Gelap
Tanpa bintang
Tersiksa aku dibuatnya
Satu purnama
Sepuluh purnama
Ratusan purnama
Tak mampu menghilangkan wajahmu dari pikiranku
Wajah yang selalu hadir dalam setiap mimpi di hari hariku yang kelam
Wajah yang selalu membunuhku perlahan
Wajah yang selalu kurindukan
Jarak yang membentangkan kita
Waktu yang memisahkan kita
Aku akan membunuhnya detik ini juga
Tunggulah...
Tunggu aku sejenak...
Esok, ketika kamu terbangun, aku sudah berlutut di depan pintumu
Memberikan alasan bukan hal yang cukup
Mengemis tuk dapat kembali bahkan aku tak pantas melakukannya
Sepeser cintamu pun takkan pantas aku menerimanya
Tapi...
Di lain sisi dari kata brengsek yang telah menyelinap di namaku...
Ijinkan aku, untuk mengharap cintamu
Ijinkan aku, untuk sekedar bercerita tentang ratusan purnama yang kuhadapi
Ijinkan aku, untuk mengemis ampunmu
Ijinkan aku, untuk memelukmu
Ijinkan aku, untuk menciummu
Tuk membuktikan. Menunjukkan.
Bahwa di jarak yang membentangkan kita
Di waktu yang lama tak mempertemukan kita
Aku masih bertahan di sini
Bertahan menjaga singgasana cinta
Berdiri tegap melindungi kenangan
Mengumpulkan pundi pundi keberanian
Tuk sekedar mengatakan...
Aku cinta kamu.
Aku masih menulis, Menulis tentang masa-masa yang telah aku tinggal jauh di belakang, Masih berangan tentang mawar yang aku usahakan untukmu, Masih berangan tentang binar matamu yang aku pikir hanya untukku kala itu, Masih berangan tentang bercerita di depan api unggun yang kamu nyalakan musim dingin itu. Aku masih menulis, Menulis tentang sinar pancaran matamu saat kamu bercerita, Menulis tentang indah garis lengkung bibirmu saat kamu tersenyum, Menulis tentang merdu suara tawamu saat kamu tertawa. Aku masih menulis, Menulis tentang kemungkinan-kemungkinan dunia paralel yang kamu ceritakan itu benar adanya, Menulis tentang kemungkinan di dunia paralel itu kita sedang mewujudkan impian-impian kita, Menulis tentang kemungkinan di dunia paralel itu kita saling bergerak tanpa ada rasa takut. Aku masih menulis, Menguatkan ingatanku yang mulai memburam tentang apa-apa tentangmu, Menguatkan bayangmu yang perlahan mulai menghilang, Menguatkan kisah-kisah yang kita pernah bakar h...
Komentar
Posting Komentar