Langsung ke konten utama

Penyesalan

Meninggalkanmu adalah sebuah kutukan
Berjalan di jalan yang berbeda denganmu adalah penderitaan
Dan kata brengsek telah menyelinap dalam namaku
Tersesat
Gelap
Tanpa bintang
Tersiksa aku dibuatnya
Satu purnama
Sepuluh purnama
Ratusan purnama
Tak mampu menghilangkan wajahmu dari pikiranku
Wajah yang selalu hadir dalam setiap mimpi di hari hariku yang kelam
Wajah yang selalu membunuhku perlahan
Wajah yang selalu kurindukan
Jarak yang membentangkan kita
Waktu yang memisahkan kita
Aku akan membunuhnya detik ini juga
Tunggulah...
Tunggu aku sejenak...
Esok, ketika kamu terbangun, aku sudah berlutut di depan pintumu
Memberikan alasan bukan hal yang cukup
Mengemis tuk dapat kembali bahkan aku tak pantas melakukannya
Sepeser cintamu pun takkan pantas aku menerimanya
Tapi...
Di lain sisi dari kata brengsek yang telah menyelinap di namaku...
Ijinkan aku, untuk mengharap cintamu
Ijinkan aku, untuk sekedar bercerita tentang ratusan purnama yang kuhadapi
Ijinkan aku, untuk mengemis ampunmu
Ijinkan aku, untuk memelukmu
Ijinkan aku, untuk menciummu
Tuk membuktikan. Menunjukkan.
Bahwa di jarak yang membentangkan kita
Di waktu yang lama tak mempertemukan kita
Aku masih bertahan di sini
Bertahan menjaga singgasana cinta
Berdiri tegap melindungi kenangan
Mengumpulkan pundi pundi keberanian
Tuk sekedar mengatakan...
Aku cinta kamu.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Aku Masih Menulis...

Aku masih menulis, Menulis tentang masa-masa yang telah aku tinggal jauh di belakang, Masih berangan tentang mawar yang aku usahakan untukmu, Masih berangan tentang binar matamu yang aku pikir hanya untukku kala itu, Masih berangan tentang bercerita di depan api unggun yang kamu nyalakan musim dingin itu. Aku masih menulis, Menulis tentang sinar pancaran matamu saat kamu bercerita, Menulis tentang indah garis lengkung bibirmu saat kamu tersenyum, Menulis tentang merdu suara tawamu saat kamu tertawa. Aku masih menulis, Menulis tentang kemungkinan-kemungkinan dunia paralel yang kamu ceritakan itu benar adanya, Menulis tentang kemungkinan di dunia paralel itu kita sedang mewujudkan impian-impian kita, Menulis tentang kemungkinan di dunia paralel itu kita saling bergerak tanpa ada rasa takut. Aku masih menulis, Menguatkan ingatanku yang mulai memburam tentang apa-apa tentangmu, Menguatkan bayangmu yang perlahan mulai menghilang, Menguatkan kisah-kisah yang kita pernah bakar h...

The Way I Love You

Semua yang berkaitan dengannya nyatanya tak pernah berakhir baik-baik saja. Lagu yang sering dia putar, makanan yang selalu dia pesan, bahkan setiap tempat yang selalu dia dan aku datangi. Semua tak pernah menjadi hal yang berakhir baik jika aku bertemu dengannya. Semua hal itu akan selalu mendatangkan jutaan kenangan yang lama telah aku coba untuk lupakan. Termasuk jalanan yang saat ini sedang aku pandangi. Sebuah jalan bernama Malioboro yang dulunya menjadi tempat nomor satu bagiku. Lalu lalang manusia tidak membuat otakku berhenti bekerja dalam menghentikan semua kenangan yang mendadak datang bagaikan sebuah film yang aku tonton di tv usang. Samar namun menguat di saat bersama. Memburam tapi tercetak kuat di saat bersamaan. Membuatku menggila. Membuatku sesak akan dorongan rindu yang tidak boleh aku rasakan kembali. He is sensible and so incredible Mencoba menghapus bayangannya dengan memikirkan seseorang yang beberapa bulan ini selalu menemaniku. Mencoba untuk meyakinkan hati...

Tentang Aku dan Kamu

Teruntuk sang kekasih, Kamu mungkin nanti tak akan melihatku bingung memilih satu baju dengan baju lainnya, atau satu tas dengan tas lainnya. Tapi, kamu akan menemukanku bingung antara satu judul buku dengan judul lainnya. Memilih buku dari penulis favoritku atau buku dengan sinopsis yang menarik hatiku. Kamu mungkin tak akan melihatku bersemangat mendatangi konser salah satu grup idolaku, karena kamu dan aku sama-sama tahu bahwa orang tuaku tak akan merestui. Tapi, kamu akan melihatku bersemangat dengan talkshow dari salah satu penulis favoritku, penulis-penulis hebat yang melahirkan banyak karakter yang membuatku mencinta. Kamu mungkin tak akan melihatku bersemangat memasuki pusat perbelanjaan. Karena tempat itu selalu sukses membuatku lelah terlebih dahulu. Tapi, kamu mungkin akan melihatku tak pernah lelah untuk berjalan sepanjang jalan malioboro, menikmati perjalanan jauh untuk mencapai pantai yang tenang, atau bahkan mengelilingi kota Jogja. Kamu mungkin akan menemu...